Nama Para Nabi Tertulis dalam Prasasti Ebla

Nama Para Nabi Tertulis dalam Prasasti Ebla, 1500 Tahun Lebih Tua daripada TauratBerasal dari masa sekitar 2500 SM, prasasti Ebla memberikan keterangan teramat penting mengenai sejarah agama-agama. Sisi terpenting mengenai prasasti Ebla, yang ditemukan para ahli arkeologi pada tahun 1975 dan yang sejak itu telah menjadi pokok bahasan dari banyak penelitian dan perdebatan, adalah terdapatnya nama tiga orang nabi yang disebutkan dalam kitab-kitab suci.
Penemuan prasasti Ebla setelah ribuan tahun dan informasi yang dikandungnya sungguh sangat penting dari sudut pandang perannya dalam memperjelas letak geografis kaum-kaum yang disebutkan dalam Al Qur’an.

Sekitar 2500 SM, Ebla adalah sebuah kerajaan yang meliputi suatu wilayah yang di dalamnya termasuk ibukota Syria, Damaskus, dan Turki bagian tenggara. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan di bidang kebudayaan dan ekonominya, namun setelah itu, sebagaimana yang menimpa banyak peradaban besar, menghilang dari panggung sejarah. Tampak dari catatan yang terawetkan tersebut bahwa Kerajaan Ebla merupakan pusat utama kebudayaan dan perdagangan di masanya.(1) Penduduk Ebla memiliki sebuah peradaban yang membangun lembaga-lembaga arsip negara, mendirikan perpustakaan-perpustakaan dan mencatat aneka perjanjian perdagangan secara tertulis. Mereka bahkan memiliki bahasa mereka sendiri, yang disebut sebagai Eblaite.


Sejarah Agama-Agama Zaman Dahulu

Peran penting sesungguhnya Kerajaan Ebla, yang dianggap sebagai sebuah keberhasilan besar bagi arkeologi klasik ketika pertama kali ditemukan di tahun 1975, mengemuka dengan ditemukannya sekitar 20.000 prasasti dan penggalan tulisan paku. Naskah ini empat kali lebih banyak daripada seluruh naskah bertulisan paku yang diketahui para arkeolog selama 3.000 tahun terakhir.
Ketika bahasa yang digunakan dalam prasasti-prasasti tersebut diterjemahkan oleh seorang berkebangsaan Italia Giovanni Pettinato, penerjemah naskah-naskah kuno dari Universitas Roma, nilai penting prasasti tersebut semakin dipahami. Alhasil, penemuan Kerajaan Ebla dan kumpulan naskah negara yang luar biasa tersebut tidak hanya menarik perhatian di bidang arkeologi, tapi juga bagi kalangan agamawan. Hal ini dikarenakan selain nama-nama seperti Mikail (Mi-ka-il) dan Thalut (Sa-u-lum), yang berperang bersama Nabi Dawud, prasasti-prasasti ini juga menuliskan nama-nama nabi yang disebutkan di dalam tiga kitab suci: Nabi Ibrahim (Ab-ra-mu), Nabi Dawud (Da-u-dum) dan Nabi Ismail (Ish-ma-il). (2)


Pentingnya Nama-Nama yang Disebut dalam Prasasti Ebla

Nama para nabi yang ditemukan dalam prasasti Ebla memiliki nilai teramat penting karena ini adalah kali pertama nama-nama tersebut dijumpai dalam naskah bersejarah setua itu. Informasi ini, yang berasal dari zaman 1500 tahun sebelum Taurat, sangatlah mengejutkan. Kemunculan nama Nabi Ibrahim di dalam prasasti tersebut menyatakan secara tertulis bahwa Nabi Ibrahim dan agama yang dibawanya telah ada sebelum Taurat.
Para sejarawan mengkaji prasasti Ebla dari sudut pandang ini, dan penemuan besar tentang Nabi Ibrahim dan misi yang diembannya menjadi bahan penelitian dalam kaitannya dengan sejarah agama-agama. David Noel Freedman, arkeolog dan peneliti Amerika mengenai sejarah agama-agama, melaporkan berdasarkan penelitiannya nama-nama nabi seperti Ibrahim dan Ismail di dalam prasasti tersebut. (3)


Nama-Nama Lain di dalam Prasasti

Sebagaimana disebutkan di atas, nama-nama yang ada di dalam prasasti adalah nabi-nabi yang disebutkan di dalam tiga kitab suci, dan prasasti tersebut jauh lebih tua daripada Taurat. Selain nama-nama ini terdapat pula hal-hal lain dan nama-nama tempat di dalam prasasti tersebut, yang dengannya dapat diketahui bahwa penduduk Ebla adalah para pedagang yang sangat berhasil. Nama Sinai, Gaza dan Yerusalem, yang tidak terlalu jauh letaknya dari Ebla, juga terdapat di dalam tulisan tersebut, yang menunjukkan bahwa penduduk Ebla memiliki hubungan yang sangat baik dengan tempat-tempat tersebut di bidang perdagangan dan kebudayaan. (4)
Satu rincian penting yang diketahui dari prasasti tersebut adalah nama-nama wilayah seperti Sodom dan Gomorrah, tempat berdiamnya kaum Luth. Diketahui bahwa Sodom dan Gomorrah adalah sebuah wilayah di pesisir Laut Mati tempat bermukimnya kaum Luth dan tempat di mana Nabi Luth mendakwahkan risalahnya dan menyeru masyarakat untuk hidup mengikuti nilai-nilai ajaran agama. Selain dua nama ini, kota Iram, yang tercantum di dalam ayat-ayat Al Qur’an, juga di antara yang tersebut di dalam prasasti Ebla.
Sisi paling penting untuk dicermati dari nama-nama ini adalah bahwa selain dari naskah-naskah yang disampaikan oleh para nabi, nama-nama tersebut belum pernah muncul di dalam naskah mana pun sebelumnya. Ini adalah bukti tertulis penting yang menunjukkan bahwa para nabi yang medakwahkan risalah satu agama yang benar di masa itu telah mencapai wilayah-wilayah tersebut. Dalam sebuah tulisan di majalah Reader’s Digest, tercatat di masa itu bahwa terdapat pergantian agama dari penduduk Ebla selama masa pemerintahan Raja Ebrum dan bahwa masyarakat mulai menambahkan imbuhan di depan nama-nama mereka dalam rangka meninggikan nama Tuhan Yang Mahakuasa.


Janji Allah Adalah Benar…

Sejarah Ebla dan prasasti Ebla yang ditemukan setelah 4.500 tahun sesungguhnya mengarahkan kepada satu kebenaran yang teramat penting: Allah telah mengirim utusan-utusan kepada penduduk Ebla, sebagaimana yang Dia lakukan ke setiap kaum, dan para utusan ini menyeru kaum mereka kepada agama yang benar.
Sebagian orang memeluk agama yang sampai kepada mereka sehingga mereka berada di jalan yang benar, sedangkan yang lain menentang risalah para nabi dan lebih memilih kehidupan yang nista. Tuhan, Penguasa langit dan bumi, dan segala sesuatu di antara keduanya, mewahyukan kenyataan ini dalam Al Qur’an:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl, 16: 36)


Daftar pustaka:
1) “Ebla”, Funk & Wagnalls New Encyclopaedia, © 1995 Funk & Wagnalls Corporation, Infopedia 2.0, SoftKey Multimedia Inc.
2) Howard La Fay, “Ebla: Splendour of an Unknown Empire,” National Geographic Magazine, December 1978, h. 736; C. Bermant and M. Weitzman, Ebla: A Revelation in Archaeology, Times Books, 1979, Wiedenfeld and Nicolson, Great Britain, h. 184.
3) Bilim ve Teknik magazine (Science and Technology), No. 118, September 1977 and No. 131 October 1978
4) For detailed information, please see Harun Yahya’s Miracles of the Qur’an.
DIKUTIP dari http://www.harunyahya.com

“10 orang solatnya tidak diterima oleh Allah S.W.T,





Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bermaksud : “Sesiapa yang memelihara solat, maka solat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara solat, maka sesungguhnya solat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya.” (Tabyinul Mahaarim)
Rasulullah S.A.W telah bersabda bahawa : “10 orang solatnya tidak diterima oleh Allah S.W.T, antaranya :

  1. Orang lelaki yang solat sendirian tanpa membaca sesuatu.
  2. Orang lelaki yang mengerjakan solat tetapi tidak mengeluarkan zakat.
  3. Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.
  4. Orang lelaki yang melarikan diri.
  5. Orang lelaki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya (Taubat).
  6. Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya.
  7. Orang perempuan yang mengerjakan solat tanpa memakai tudung.
  8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.
  9. Orang-orang yang suka makan riba’.
  10. Orang yang solatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar.”

Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud : “Barang siapa yang solatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya solatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah S.W.T dan jauh dari Allah.”
Hassan r.a berkata : “Kalau solat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan solat. Dan pada hari kiamat nanti solatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk.”

Kecantikan wanita

Kecantikan wanita

Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari. Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.

Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.

Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.

Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.

cinta dunia

Mengatasi cinta dunia

Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang penuh dengan tipuan belaka, dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkuk.

Para sahabat bertanya: “Apakah saat itu jumlah kami sedikit?”

Rasulullah bersabda: “Tidak bahkan pada saat itu jumlah kamu amat sangat banyak, tetapi seperti air buih didalam air bah karena kamu tertimpa penyakit wahn.”

Sahabat bertanya: “Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?”

 

 

Rasulullah bersabda: “Penyakit wahn itu adalah kecintaan yang amat sangat kepada dunia dan takut akan kematian. Cinta dunia merupakan sumber utama segala kesalahan.”

 

Runtuhnya kemuliaan sumber dari segala fitnah, dan semua kesalahan adalah karena kita cinta kepada dunia.

Pada Rasul tidak ada cinta dunia kecuali cinta terhadap Allah, cinta terhadap kemuliaan.

Rasulullah merupakan contoh seorang pemimpin yang dicintai sampai ke lubuk hati yang paling dalam.

Rasul adalah contoh seorang suami yang benar-benar menjadi suri tauladan dan kebanggaan bagi keluarganya.

Rasul juga contoh seorang pengusaha yang dititipi dunia, tapi tidak diperbudak oleh dunia yang dimilikinya.

Kalau orang sudah mencintai sesuatu maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya.

Orang yang sudah cinta terhadap dunia, akan sombong, dengki, serakah dan berusaha dengan segala cara untuk mencapai segala keinginannya, oleh karena itu yakinlah bahwa dunia itu total milik Allah.

Segala sesuatu yang kita miliki baik sedikit maupun banyak semuanya milik Allah.

Dalam mencari rizki janganlah mempergunakan kelicikan karena dengan kelicikan atau tidak dengan kelicikan datangnya tetap dari Allah.

Mengingat Mati Demi Kehidupan yg Abadi

lembutkan Hatimu Dengan Mengingat Mati

Saudaraku yang mengharap ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah sebuah perjalanan panjang menuju negeri keabadian.

Semoga kita digolongkan ke dalam orang-orang yang sadar dan mengerti harus bagaimana menjalani hidup ini agar terhindar dari kehidupan yang sia-sia dan tanpa makna.

 

 

Perjalanan ke sebuah negeri yang tiada akhirnya. Ingatlah wahai saudaraku perbekalan yang terbaik adalah ketakwaan kita (watazawwadu fainna khoirozzaadittaqwa) QS. 2:198. Yakni dengan amal shaleh yang ikhlas dan mutaaba’ah (sesuai sunnah Rasulullah u) yang menyertaimu ketika meninggalkan dunia ini untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kematian yang pasti.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati….” (QS. Al-Imran :185)

Memang wahai saudaraku. Perjalanan ini adalah menuju akhirat. Suatu perjalanan yang kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar berakhir pada kenikmatan surga. Bukan neraka. Karena keagungan perjalanan menuju hari akhir inilah Rasulullah  bersabda:
“Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Mutaffaqun ‘alaih)
maksudnya, jika kita mengetahui hakekat ajal yang akan menjemput kita dan kedahsyatan alam kubur, kegelapan hari kiamat dan segala kesedihannya, shirot (titian) dan segala rintangannya, surga dengan segala kenikmatannya, niscaya akan memberikan motivasi kepada kita untuk mengadakan perubahan. Berubah dari kefasikan dan kekafiran menjadi keimanan, dari kemunafikan menjadi istiqamah, dari keraguan menjadi keyakinan, dari kesombongan menjadi ketawadhu’an, dari rakus menjadi rasa syukur dan sederhana, dari pemarah dan pendendam menjadi kasih sayang dan memaafkan, dari kelicikan dan kesewenangan menjadi kejujuran dan keadilan, dari kedustaan menjadi kebenaran. Jadi, perubahan diri dari sifat dan watak syaithoni dan hewani, menjadi insan Islami harus segera di mulai.
Akan tetapi kita sering lupa atau berpura-pura lupa dengan perjalanan panjang tersebut, bahkan malah memilih dunia dengan segala perangkatnya, kemewahan, kecantikan, kekayaan, kedudukan yang semua nilainya disisi Allah S.W.T, tidak lebih dari sehelai sayap nyamuk!
Wahai yang tertipu oleh dunia…..!

Wahai yang sedang berpaling dari Allah S.W.T…!

Wahai yang sedang lengah dari ketaatan kepada Rabb-nya…!

Wahai yang nafsunya selalu menolak nasehat!!

Wahai yang selalu berangan-angan panjang!!!

Tidakkah engkau mengetahui bahwa kamu akan segera meninggalkan duniamu dan duniamu pula akan meninggalkanmu?

Mana rumahmu yang megah?

Mana pakaianmu yang indah?

Mana aroma wewangianmu?

Mana para pembantu dan familimu?

Mana wajahmu yang cantik dan tampan?

Mana kulitmu yang halus?

Mana….?! Mana….?!

Saat itu ulat dan cacing mengoyak-ngoyak dan mencerai-beraikan seluruh tubuhmu ….?!
Bersegeralah bersimpuh di hadapan Rabbul Jalil, Allah S.W.T.

Lepaskan selimut kesombongan yang menghalangi dari rahmat dan maghfirah-Nya.

Kuberikan khabar gembira bagi yang berdosa, lalai dan berlebih-lebihan, agar segera berhenti dari perbuatan kemaksiatannya itu.
Saudaraku yang tercinta, siapakah diantara kita yang tak berdosa,

siapa diantara kita yang tidak bersalah kepada Tuhannya? Sama sekali tidak ada, seharipun kita tidak bisa seperti malaikat yang selalu taat dan tidak berbuat maksiat sedikitpun.
Datangilah masjid dan beribadahlah di dalamnya,

tegakkanlah shalat lima waktu,

puasalah di bulan Ramadhan,

tunaikan haji jika engkau telah mampu,

zakatilah harta dan jiwamu,

bimbinglah anak-anakmu dengan Al-Islam,

jauhkan dirimu dan keluargamu dari bacaan/majalah/tabloid porno.
Insyafilah semua dosa-dosa, serta ingatlah ….

Pintu taubat masih terbuka lebar untukmu, rahmat dan maghfirah Allah S.W.T sangatlah luas, lebih luas dari lautan dosa. Ketahuilah bahwa Allah Y sangat senang dengan taubatmu.

Ingatlah firman Allah s.W.T:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan hatinya.”
Rasulullah u menyampaikan satu nasehat yang mana satu nasehat ini cukup untuk menasehati setiap manusia:
“Cukuplah dengan adanya kematian sebagai penasehat (bagi kita).”
Saudaraku….,

Renungkanlah baik-baik risalah ini dengan pena kerinduan dan tinta air mata.

Kembalilah kepada Allah Y dan Rasul-Nya u dengan manhaj (cara) yang benar.

Kerjakanlah apa yang telah diperintahkan-Nya dan sekuat-kuatnya untuk menjauhi larangan-Nya. Berusahalah untuk memelihara ketundukan, tawadhu’ dan syukur atas nikmat-Nya yang akan mengajakmu menuju pintu ketenangan dan kebahagiaan.

Berhiaslah dengan amal shaleh dan keindahan akhlaqul karimah.

Semuanya akan mempertanggungjawabkan amalannya sendiri-sendiri, maka beramal-lah!
Allah Y berfirman:
“Maka barangsiapa beramal seberat biji sawi dari kebaikan, niscaya akan melihat ganjarannya. Dan barangsiapa beramal seberat biji sawi dari kemaksiatan, niscaya akan melihat siksanya.” (Az-Zalzalah: 7- 8) Wallahu a’lam.

MUQADDIMAH KEIMANAN SEORANG MUSLIM

MUQADDIMAH KEIMANAN

1. Iman adalah nikmat dan kurnia Allah yang tertinggi nilainya dan terpenting fungsinya dalam kehidupan manusia.
2. Iman merupakan asas Dienul Islam yang menentukan diterimanya amal.
3. Dengan peranan Iman, manusia dikeluarkan dari kegelapan syirik dan jahiliyyah kepada cahaya tauhid dan Islam.
4. Kerana Iman manusia ada yang bahagia dan ada yang celaka dan dengan ukuran Iman boleh ditentukan siapa yang berhak dibela dan siapa yang berhak dimusuhi.
5. Maka Iman merupakan satu-satunya kekayaan manusia yang paling bernilai dalam kehidupannya, yang mampu memadu kehidupan dan mengarahkan penggunaan semua nikmat lainnya kepada keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat.
6. Tanpa panduan iman, hidup akan menuju kearah kebinasaan dan nikmat-nikmat lainnya laksana sampah yang tidak ada guna sedikitpun bahkan selalu menambah beban yang meletihkan dan mewujudkan gangguan.
7. Mengingatkan nilai dan fungsinya yang begitu tinggi dan penting, maka sudah seharusnya kita menaruh perhatian yang cukup besar untuk berusaha meningkatkan iman dalam hati kita.
8. Kita tidak akan mampu berbuat itu kecuali bila kita memahami dengan benar dan tepat makna dan hakikat iman seperti yang diajarkan oleh Allah dan Rasul Nya.

PENGERTIAN IMAN

1. Dari segi bahasa, Iman berasal dari kata kerja Aamana Yu’minun Imaana yang beerti Mempercayai dan Membenarkan.
2. Dari segi syarie pula bermaksud membenarkan di dalam hati, berikrar dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.

DALIL-DALIL PENGERTIAN IMAN

1. Membenarkan di dalam hati. (Al Hujurat 49:14; Al Mujadilah 58:22; Al Maidah 5:41)
2. Mengikrarkan dengan lisan. (Al Baqarah 2:136; Al Ankabuut 29: 46)
3. Mengamalkan dengan anggota badan.
Rasulullah saw bersabda: Iman itu lebih dari enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan (tidak ada Ilah melainkan Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu itu cabang dari Iman. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa diantara kamu sekalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, bila tidak mampu maka dengan lisannya, dan bila tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya Iman. (Hadis Riwayat Muslim)

DISYARIATKAN IMAN

Iman disyariatkan oleh Allah dan Rasul Nya, kerana ia merupakan asas Dienul Islam dan syarat diterimanya amal. (Al Baqarah 2:285)
Bersabda Rasulullah saw: Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat Nya, kitab-kitab Nya, Rasul-Rasul Nya, hari akhirat, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan buruk. (Hadis Riwayat Muslim)

HAKIKAT DAN KEADAAN IMAN

1. Hakikat Iman
a. Pada hakikatnya, Iman memerlukan kegiatan hati, lisan dan anggota badan secara terpadu dan tidak dapat terpisah.
b. Kegiatan hati meliputi:
i. Ucapan hati iaitu membenarkan, mempercayai dan menyakini. Manakala amalan hati pula ialah tunduk, mencintai dan mentaati.
ii. Kegiatan lisan iaitu mengikrarkan apa yang telah dibenarkan, dipercayai, diyakini dan ditaati oleh hati.
iii. Kegiatan anggota badan iaitu mengamalkan apa yang telah dibenarkan, dipercayai, diyakini dan ditaati oleh hati serta yang telah diikrarkan oleh lisan.
c. Maka Iman yang sempurna boleh wujud apabila ketiga-tiga perkara tersebut wujud secara sempurna dan terpadu.
d. Apabila salah satu dari ketiga-tiga perkara tersebut tidak wujud maka Iman menjadi rosak. Bahkan mungkin musnah atau hilang sama sekali kerana apabila kegiatan hati tidak wujud maka Iman juga tidak akan wujud, sebab pengikraran lisan dan pengamalan anggota badan yang tidak bersumber dari pembenaran dan ketaatan hati adalah merupakan pengikraran dan pengamalan bohong belaka dan pelakunya disebut Munafik.
e. Sebaliknya apabila kegiatan hati wujud tetapi kedua-dua kegiatan yang lain atau salah satu dari keduanya tidak wujud maka Iman menjadi rusak.
f. Telah berkata Ibnu Qayyim: Apabila amalan hati dengan keyakinan yang benar hilang, maka Ahli Sunnah ijma’ bahawa Iman pun hilang, bahawa sesungguhnya pembenaran tidak bermanfaat dengan hilangnya amalan hati.
g. Telah berkata Ibnu Taimiyyah: Barangsiapa tidak membenarkan dengan lisannya padahal dia mampu, orang seperti itu dalam bahasa kaum muslimin tidak dinamakan Iman, sebagaimana hal itu telah disepakati Ulama Salaf (terdahulu) dari golongan Sahabat dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik.
h. Telah berkata Qadi Abu Ya’la: Adapun batasan Iman dalam syariat ialah semua bentuk ketaatan batin dan Zahir. Adapun batin termasuk pembenaran hati dan zahir iaitu amalan-amalan badan yang wajib dan sunnah. Ahli Sunnah bersepakat untuk menyatakan bahawa seorang hamba yang sudah membenarkan dengan hatinya serta mengikrarkan dengan lisannya, tetapi menolak untuk mengamalkan dengan anggota badannya, termasuk bermaksiat kepada Allah dan Rasul Nya, dan baginya berhak mendapat ancaman seperti yang telah disebutkan Allah dalam KitabNya dan telah diberitakan Rasulullah saw dalam hadisnya (Syarah Aqidah Tohawiyyah halaman 374)

2. Keadaan Iman
a. Iman keadaannya tidak selalu tetap, tetapi ia mengalami pasang-surut, boleh bertambah dan boleh berkurang mengikut amal perbuatan.
b. Iman bertambah dengan amalan soleh dan lingkungan soleh, dan berkurang dengan amalan maksiat dan lingkungan maksiat. (Al Anfal 8:2; Ali Imran 3:173; Al Fath 48:4)
c. Telah berkata sahabat Abu Darda: Termasuk fiqihnya seorang hamba adalah memperbaharui keimanannya dan apa-apa yang mengurangi kadarnya. Dan juga termasuk fiqihnya seorang hamba adalah mengetahui apakah imannya sedang bertambah atau berkurang.
d. Telah berkata Umar bin Khattab ra kepada para sahabat yang lain: Hendaklah kita sentiasa berusaha menambah iman kita dan untuk itu maka ingatlah selalu kepada Allah azza wajalla.
e. Telah berkata Imam Ahmad: Iman adalah ucapan dan amalan bertambah dan berkurang. (Nawaqidul Imam Alqauliyah wal Amaliyah hal 17)

RUKUN IMAN

1. Allah dan Rasulullah saw menerangkan bahawa rukun Iman ada 6 perkara. (Al Baqarah 2:177)
Telah Berfirman Rasulullah saw: Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, Malaikat Nya, Kitab-kitab Nya, Rasul-Rasul Nya, Hari Akhirat dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan buruk (Hadis Riwayat Muslim)

a. Rukun Pertama Beriman Kepada Allah (Muhammad 47:19)
i. Beriman kepada Rububiyyah Nya, iaitu bahawa hanya Allah yang menciptakan alam semesta dan semua makhluk didalamnya, hanya Allah yang memiliki alam semesta dan isinya, hanya Allah yang sanggup menghidupkan dan mematikan semua makhluk dan hanya Allah yang memberi rezeki dan mentadbir alam semesta beserta isinya. (Az Dzukhruf 43:87)
ii. Beriman kepada Rububiyyah Allah tidak menunjukan bahawa orang yang beriman tersebut juga beriman kepada Nabi Muhammad saw, sebab orang kafir Quraisy juga beriman kepada Rububiyyah Allah, tetapi mengingkari Muhammad Rasulullah saw.
iii. Beriman kepada Uluhiyyah Nya. Iaitu beriman hanya Allah yang berhak diibadahi dalam pengertiannya yang luas dan sempurna, hanya Allah yang berhak menciptakan hukum dan mengatur manusia dengan hukumnya. Beriman hanya hukum Allah yang berhak ditaati. (Az Dzaariyaat 51:56; An Nahl 16:36, Yusuf 12:40)
iv. Beriman kepada Uluhiyyah Allah adalah juga bererti beriman kepada Muhammad Rasulullah saw. Maka beriman kepada Uluhiyyah Allah beerti beriman kepada Rububiyyah Nya sedang beriman kepada Rububiyyah Allah belum tentu beriman kepada Uluhiyyah Nya.
v. Beriman kepada Asma dan Sifat Nya, iaitu beriman bahawa hanya Allah lah yang mempunyai nama-nama yang baik yang sesuai dengan kebesaran dan kesempurnaan Nya, dan hanya Allah lah yang patut disifati dengan sifat-sifat yang tinggi, sempurna dan terpuji. Beriman hanya Allah yang suci dari segala kelemahan dan kekurangan. (Al A’raf 7:180)
vi. Nama-nama baik dan sifat-sifat yang tinggi, terpuji dan sempurna itu wujudnya sebagaimana yang Allah beritakan dalam Al Quran dan diberitakan oleh Rasul Nya didalam hadis, tidak boleh dimisalkan, ditiadakan dan ditakwilkan (Asy Syura 42:11)

b. Rukun Kedua Beriman Kepada Malaikat-Malaikat Nya. (Al Baqarah 2:285)
i. Maksudnya: Beriman bahawa Allah swt menciptakan makhluk yang namanya Malaikat yang keadaanya ialah:
§ Diciptakan sebelum Adam as (Al Baqarah 2:31-35)
§ Diciptakan dari cahaya
Telah Bersabda Rasulullah saw: Malaikat itu diciptakan daripada cahaya, manakala jin pula diciptakan daripada lidah api yang menjulang-julang, dan Adam pula diciptakan daripada bahan tanah seperti yang telah diceritakan kepada kamu sekalian. (Hadis Riwayat Muslim)
§ Bukan lelaki dan bukan perempuan
§ Tidak makan dan tidak minum
§ Tidak pernah maksiat kepada perintah Allah dan selalu mengamalkan apa sahaja yang diperintah (At Tahrim 66:6)
§ Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti (Al Anbiya 21:19-20)
§ Mampu berganti rupa (Maryam 19:17)
§ Mempunyai sayap (Fatir 35:1)
ii. Tugas-tugas mereka antara lain ialah:
§ Mencabut nyawa (Al An’am 6:61)
§ Mendampingi manusia dan mencatat amal (Al Infithar 82:10-12)
§ Memikul arsy (Al Mukmin 40:7)
§ Menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi dan Rasul (Asy Syuara’ 26:192-194)
§ Menghadiri majlis zikir, majlis tadarrus dan majlis ilmu
§ Memohonkan keampunan untuk orang-orang beriman (Asy Syura 42:5)
§ Mengukuhkan pendirian para Mujahid dimedan jihad di jalan Allah
§ Bertanya kepada mayat didalam kubur
§ Menjaga syurga dan neraka (Ar Ra’d 13:23-24; Al Muddatssir 74:26-31)
§ Meniup sangkakala pada hari kiamat
§ Mengatur perjalanan awan dan menurunkan hujan
§ Memberi berita gembira kepada orang saleh pada waktu sakaratul maut

iii. Jumlah sebenar malaikat tidak diketahui. Ianya disimpan sebagai ilmu ghaib disisi Allah. Antara malaikat yang tersebut namanya ialah:
§ Jibril, Mikail, Malakul Maut, Nafihus Sur, Hamalatul Arsy, Malik, Zabaniyyah, Roqib dan Atid, Munkar dan Nakir. (Al Baqarah 2:97-98; Al A’raf 7:206; Al Alaq 96:18)

c. Rukun Ketiga Beriman Kepada Kitab-Kitab Nya. (An Nisa 4:136)
i. Bermaksud beriman kepada kitab suci yang telah diturunkan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul, sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia.
ii. Beriman bahawa diantara kitab-kitab suci itu disebut didalam Al Quran iaitu:
§ Zabur diturunkan kepada nabi Daud (Al Israa 17:55)
§ Ash Shuhuf kepada nabi Ibrahim. (An Najm 53:36-37)
§ Taurat kepada nabi Musa as. (Al Maidah 5:44)
§ Injil kepada Nabi Isa as (Al Maidah 5:46)
§ Al Quran kepada nabi Muhammad saw
iii. Beriman bahawa Al Quran adalah kitab Allah yang terakhir yang mencakupi ringkasan pengajaran-pengajaran Ilahiyyah, serta membenarkan isi kitab-kitab suci yang mendahuluinya yang merangkumi tauhid, ibadah dan taat. (Al Maidah 5:48)
iv. Beriman kepada adanya kitab-kitab sebelum Al Quran hanya secara garis besar bahawa kitab-kitab tersebut pernah ada sebelum Al Quran yang selanjutnya digantikan oleh Al Quran.
v. Beriman bahawa Al Quran adalah kitabullah yang terakhir yang seluruhnya benar tidak ada kebatilan sedikitpun didalamnya, terjaga keutuhannya sejak mulai diturunkan sampai hari kiamat. (Fushilat 41:42; Al Hijr 15:9) Al Quran juga menjadi pedoman seluruh ummat manusia dan jin. (Al Jin 72:1-2; Al Ahqaf 46:29-31).
vi. Beriman adanya Sunnah Nabi saw sebagai penjelasan Amaliah Al Quran. (An Nahl 16:44)
vii. Beriman bahawa Al Quran adalah kitab petunjuk Rabbani yang terus berlaku sampai hari kiamat, maka barangsiapa mencari petunjuk, kebenaran dan kebaikan dari selain Al Quran pasti kesesatan yang diperolehnya.

d. Rukun Keempat Beriman Kepada Rasul-Rasul Nya. (Al Baqarah 2:136,285)
i. Maksudnya ialah beriman kepada rasul dan nabi yang disebutkan dalam Al Quran dan As Sunnah dan mereka itu membawa risalah kepada umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan (Fathir 35:24; Yunus 10:47)
ii. Beriman bahawa pokok-pokok risalah mereka adalah sama iaitu menegakkan tauhid, membanteras syirik, mewajibkan ibadah hanya kepada Allah dan menjauhi thogut. (An Nahl 16:36; Al A’raf 7:59,65,73,85; Al Mukminun 23:23)
iii. Beriman bahawa jumlah nabi dan rasul yang diutus oleh Allah tidak diketahui kecuali oleh Allah swt. Dan diantara mereka ada yang dikisahkan dan ada yang tidak dikisahkan (Al Mukmin 78).
iv. Yang dikisahkan dan disebut namanya di dalam Al Quran ada 25 orang. Urutan ini mengikut Abu Bakar Jabir Al Jazairi dalam Akidah Mukmin jilid 2 muka surat 396 dan menurut beliau, urutan ini lebih dekat kepada kebenaran kecuali kerana kesulitan dan kerumitan menentukan zaman kehidupan Nabi Yunus as, Nabi Ayub as, Nabi Zulkifli as dan Nabi Ilyasa’ as. Mereka itu ialah: Nabi Adam as, Nabi Idris as, Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Soleh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Lut as, Nabi Ismail as, Nabi Ishaq as, Nabi Ya’kub as, Nabi Yusuf as, Nabi Syuib as, Nabi Musa as, Nabi Harun as, Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, Nabi Ilyas as, Nabi Ayyub as, Nabi Ilyasa’ as, Nabi Zulkifli as, Nabi Yunus as, Nabi Zakaria as, Nabi Yahya as, Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw. (Al An’am 6:84-86; Al A’raf 7:65,73,85; Al Imran 3:33)
v. Dari segi Hakikatnya, masalah ini (urutan para nabi dan rasul) adalah seperti suatu ilmu yang tidak memberi faedah/ manfaat, dan kejahilan yang tidak membahayakan; kerana yang dituntut oleh dien ialah beriman kepada para Rasul itu, menghormati dan memandang tinggi kepada mereka mengikut dan mematuhi mereka serta menjadi pengikut yang setia kepada ajaran dien Allah di mana sahaja mereka berada dan di zaman mana mereka telah hidup. (Abu Bakar Al Jazairi dalam Akidah Mukmin jilid 2 muka surat 396)
vi. Diantara 25 Nabi dan Rasul yang dikisahkan dalam Al Quran ini ada lima Rasul yang diberi gelaran ‘Ulul Azmi’ yang beerti ‘yang teguh hatinya/ tabah/ tahan diuji’. Menurut para Ulama’ mereka itu ialah:
§ Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, Nabi Muhammad saw. (Al Ahqaaf 46:35; Al Ahzab 33:7)
vii. Beriman bahawa semua Rasul diutus kepada kaum dan bangsanya masing-masing (Fathir 35:24; An Nahl 16:36), kecuali Nabi Muhammad saw yang diutus kepada semua umat Manusia dan Jin. (Al A’raf 7:158; Al Ahqaf 46:29-31; Al Jin72:1-2)
viii. Beriman dan membenarkan semua rasul dan nabi, tidak membezakan satu dari yang lainnya. Maka barangsiapa membezakan rasul Allah satu dengan lain iaitu membenarkan yang satu dan mendustakan lainnya, maka ia kafir. (An Nisaa 4:150-151)
ix. Beriman dan menyakini bahawa semua nabi dan rasul bersifat dengan sifat-sifat terpuji
§ Siddiq iaitu Jujur dan tidak pernah berdusta (38:86)
§ Amanah tidak pernah khianat (Al Maidah 5:67; Al A’raf 7:68)
§ Fatonah iaitu cerdas dan cerdik terutama dalam memahami maksud-maksud wahyu Allah. (Al A’raf 7:67)
§ Tabligh (Al Maidah 5:67,99) iaitu selalu menyampaikan wahyu Allah yang diterimanya kepada umatnya, dengan terang, tegas, dan menyeluruh tidak ada yang disembunyikan, maka umatnya wajib mentaatinya (An Nisa 4:64)
iv. Beriman bahawa semua nabi dan rasul adalah dari bangsa manusia laki-laki bukan perempuan dan bukan bangsa malaikat. Mereka bertabiat seperti manusia yang makan, minum, tidur, beristeri, mempunyai anak, sakit, wafat dan sebagainya. (Al Furqaan 25:20, Al Anbiya 21:7-8, Al Imran 3:144; Ar Ra’d 13:38)
Telah bersabda Rasulullah saw: …Akan tetapi aku juga berpuasa dan berbuka, aku solat dan juga tidur, serta beristeri. (Hadis Riwayat Bukhari)
x. Beriman bahawa para nabi dan rasul itu dipelihara oleh Allah dari bisikan dan godaan syaitan, daripada kesalahan dalam menerangkan Ad Dien dan dari berbuat dosa dan maksiat. Inilah yang dimaksudkan dengan ‘Maksum’ (Al Hajj 22:52)
xi. Beriman bahawa setiap nabi dan rasul dikurniakan Mukjizat sebagai bukti kebenaran nubuwwah dan kerasulannya. Mukjizat-mukjizat yang tersebut dalam Al Quran ialah:
Mukjizat Nabi Ibrahim dibakar tetapi api itu§ tidak pun membakarnya dan api itu menjadi dingin dengan perintah Allah. (Al Anbiya 21:69)
§ Mukjizat nabi Sholeh as seekor unta betina yang apabila diganggu akan mendatangkan bencana (Al A’raf 7:73)
§ Mukjizat nabi Sulaiman as ditaklukan kepada beliau jin, binatang, angin dan beliau diberi kefahaman bahasa binatang (Al Anbiya 21:81-82; Shod 38:36-38; An Naml 27:16-20).
Mukjizat nabi Musa as, tongkat§ dilempar berubah menjadi ular, tangan diletakkan ke dada leher baju lalu keluar warna putih bukan kerana sakit (Al Qasas 28:31-32).
§ Mukjizat nabi Yusuf as, menyebut sesuatu yang akan diberikan kepada seseorang dan menakwilkan mimpi (Yusuf 12:37,41,47,48,49).
§ Mukjizat nabi Isa as, membuat burung dari tanah lalu ditiup menjadi hidup dengan izin Allah, menyembuhkan penyakit buta sejak lahir dan penyakit sopak, menghidupkan orang mati dengan izin Allah, mengkhabarkan apa yang dimakan dan disimpan seseorang dirumahnya (Ali Imran 3:49)
xii. Mukjizat nabi Muhammad saw:
§ Mukjizat yang ada semasa beliau masih hidup dan tidak wujud setelah beliau wafat iaitu seperti membelah bulan (Al Qamar 54:1) dan makanan yang sedikit cukup dimakan dan diminum orang ramai
Mukjizat yang§ tetap wujud sampai hari kiamat iaitu Al Quran dan As Sunnah yang tetap terjaga keasliannya sampai hari kiamat dan berfungsi sebagai satu-satunya pedoman manusia dan selama seseorang berpegang teguh kepadanya tidak akan sesat.
Telah bersabda Rasulullah saw: Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian sesuatu, jika kamu sekalian berpegang teguh kepadanya maka pasti kamu sekalian tidak akan tersesat selama-lamanya iaitu: Kitab Allah dan Sunnah NabiNya. (Hadis Riwayat Hakim)
xiii. Beriman bahawa semua nabi dan rasul tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun terhadap kekhususan-kekhususan uluhiyyah iaitu tidak mampu mendatangkan manfaat, menolak mudharat dan tidak mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali yang diberitahukan oleh Allah kepadanya (Al A’raf 7:188; Al Jin 72:26-27)

e. Rukun Kelima Beriman Kepada Darul Akhirat. (Al Baqarah 2:62; At Thagabun 64:7)
i. Bermaksud beriman kepada adanya perkara-perkara dan hal-hal yang akan berlaku setelah mati seperti apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya iaitu:
• Beriman akan adanya alam Barzah yaitu alam kubur tempat menunggu datangnya hari kebangkitan (Al Mukminun 23:100)
• Beriman akan adanya fitnah kubur yaitu pertanyaan dua malaikat tentang siapa Rabbnya, apa Diennya dan siapa Nabinya.
Diriwayatkan dari Barra bin Azid ra, Rasulullah bersabda: Firman Allah (Ibrahim 14:27) diturunkan mengenai siksa dalam kubur. Ketika ditanya si mayat didalam kubur siapakah Rabbmu, ia menjawab Rabbku adalah Allah dan Nabiku adalah Muhammad saw, Maka itulah dia makna Firman Allah (Ibrahim 14:27).
• Beriman bahawa manusia akan mengalami nikmat atau azab dalam kubur. (Al Mukmin 40:45-46)
Dari Ibnu Abbas ra berkata: Sewaktu Nabi saw duduk di atas dua kuburan baru, Rasulullah bersabda: Bahawa dua penghuni kuburan ini sedang disiksa bukan kerana dosa besar. Adapun yang satu daripadanya kerana menyebarkan fitnah dan satunya lagi kerana tidak berdinding waktu buang air kecil. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dan lafaz diatas dari lafaz Muslim)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra: Bahawa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya seseorang dari kamu apabila mati akan diperlihatkan kepadanya tempat kediamannya waktu pagi dan petang. Jika ia termasuk kedalam ahli syurga maka tempat kediamannya dalam kalangan ahli syurga. Dan jika ia termasuk kedalam ahli neraka maka tempat kediamannya dalam kalangan ahli neraka juga. Dan dikatakan kepadanya: Inilah tempat kediaman engkau, hingga Allah bangkitkan engkau pada hari kiamat. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
• Beriman bahawa pasti akan terjadi hari kiamat yang masa berlakunya hanya Allah sahaja yang mengetahui, dan setelah semua manusia dimatikan akan dihidupkan kembali untuk dihisab. (Al A’raf 7:187; An Naziat 79:42-45; Az Zumar 39:68)
• Beriman adanya tanda-tanda hari kiamat seperti keterangan Allah dan Rasul-Nya. (An Naml 27:82; Al An’am 6:158)
Dari Anas bin Malik ra, bahawa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah: terangkatnya ilmu, lahirnya kejahilan, tersebarnya perbuatan zina, diminumnya khamr/ arak, lebih banyaknya perempuan dan sedikitnya lelaki, hingga bagi lima puluh orang perempuan hanya seorang lelaki yang menjadi penjaga mereka.
Dari Abu Hurairah ra, ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw: Bilakah terjadinya Kiamat? Rasulullah saw menjawab: Apabila telah hilang Amanah, maka tunggulah kiamat. Lelaki itu bertanya lagi: Bagaimanakah cara hilangnya? Rasulullah saw menjawab: Apabila diserahkan sesuatu urusan kepada bukan ahlinya tunggulah kiamat. (Hadis Riwayat Muslim)
Dari Huzaifah bin Usaid Al-Ghifari menceritakan: Telah datang kepada kami Nabi saw sedang kami dalam bermuzakarah (berbincang). Beliau bertanya: Apakah yang kalian perbincangkan? Kami menjawab: Kami sedang mengingati hari kiamat. Baginda berkata: Kiamat tidak akan berlaku hingga kamu dapat melihat sepuluh tanda-tandanya. Lalu Beliau saw menyebutkannya iaitu: keluarnya Asap, lahirnya Dajjal, keluarnya binatang melata, terbitnya matahari dari barat, turunnya Nabi Isa bin Maryam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, berlakunya gerhana tiga kali iaitu gerhana disebelah timur, gerhana di sebelah barat, gerhana di jazirah Arabia, dan terakhir sekali keluarnya api dari tanah Al-Yaman yang menghalau manusia kepada perhimpunan mereka. (Hadis Riwayat Muslim)
• Beriman bahawa setelah manusia dihidupkan kembali mereka dikumpulkan di padang mahsyar iaitu tempat berhimpun/ berkumpul setelah hari kiamat dalam keadaan seperti baru dilahirkan iaitu kaki telanjang, badan telanjang bulat dan tidak berkhitan. (Al Kahfi 18:48; Maryam 19:85-86; Al Waqiah 56:49-50)
Dari Aisyah ra ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Dihimpun manusia pada hari kiamat nanti dalam keadaan tak beralas kaki, telanjang bulat dan tidak berkhitan. Lalu berkata Aisyah: Wahai Rasulullah, kalau begitu mereka pada hari itu saling melihat aurat masing-masing, Beliau menjawab: Wahai Aisyah urusan dihari itu lebih dasyat daripada saling melihat aurat satu sama lainnya. (Hadis Riwayat Muslim)
• Beriman bahawa di Mahsyar manusia akan mengalami huru-hara yang dasyat kecuali mereka yang dapat naungan/ perlindungan dari Allah swt.
Miqdad bin Al-Aswad berkata: Bahawa Rasulullah saw bersabda: Pada hari kiamat nanti matahari akan menghampiri manusia hingga jaraknya dengan manusia hanya sekitar satu mil. Pada saat itu manusia tenggelam dalam peluhnya/ keringatnya masing-masing sesuai dengan kadar amalannya. Ada di antara mereka yang peluhnya sampai kepada kedua mata kakinya, ada diantara mereka peluhnya sampai kepada lututnya, ada diantara mereka sampai kepada pinggangnya dan ada diantara mereka peluhnya membelit tengkuknya dan Beliau saw mengisyaratkan dengan tangannya pada mulutnya. (Hadis Riwayat Muslim)
• Beriman bahawa diwaktu manusia mengalami huru-hara yang besar di mahsyar nanti, mereka akan memohon syafaat dari Allah melalui para rasul dan nabi, meminta pertolongan agar diselamatkan dari huru-hara ini dan meminta perhitungan dipercepatkan. Setiap nabi dan rasul menganjurkan agar minta tolong kepada nabi dan rasul yang kemudian daripada mereka dan seterusnya kepada Nabi Muhammad saw. Lalu nabi saw memberi syafaat dan diizinkan oleh Allah swt.
• Beriman bahawa setiap manusia akan menerima balasan amalnya masing-masing secara teliti dan adil serta tidak dizalimi sedikitpun (An Nur 24:25; Al Imran 3:185; Al Qasas 28:84; Az-Zumar 39:69-70)
Rasulullah saw bersabda dalam hadis Qudsi: Allah berfirman: wahai hamba-hamba Ku itulah amalan-amalan kamu yang Aku hitung untuk kamu, kemudian aku sempurnakan balasannya kepada kamu. Maka barangsiapa yang mendapati balasan yang baik maka hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa mendapati balasan yang sebaliknya (buruk), maka janganlah ia mencela melainkan dirinya sendiri. (Hadis Riwayat Muslim)
• Beriman bahawa setiap manusia akan dihadapkan ke hadirat Allah untuk diadili secara adil dengan kesaksian-kesaksian baik mata, kulit, catatan-catatan amalnya dan kesaksian bumi yang dipijaknya. (Al Kahfi 18:49; Fussilat 41:19-22; Al Isra 17:13-14; Al Jathiah 45:29; Al Zalzalah 99:1-5)
Dari Adi bin Hatim ra, bahawa Nabi saw bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian melainkan Allah akan bercakap dengannya dihari kiamat. Tidak ada diantara dia dan Allah penterjemah. Kemudian ia memandang dihadapannya maka tidak tampak suatu pun dihadapannya. Kemudian ia memandang dihadapannya maka disambut oleh api neraka. maka barang siapa yang sanggup menjaga dirinya dari api neraka walaupun dengan bersedekah sebelah buah kurma maka hendaklah ia berbuat (sedemikian). (Hadis Riwayat Bukhari dan yang lainnya)
• Beriman bahawa orang yang diberikan catatan amalnya dari sebelah kanan beerti Allah akan mengampunkan dosa-dosanya, memudahkan hisabnya, dan memasukkannya ke dalam syurganya tanpa disiksa dahulu dalam neraka. Dan mereka yang diberikan catatan amalnya daripada belakangnya ia akan dihisab secara terperinci dan teliti dan akhirnya dimasukkan ke dalam neraka. (Al Insyiqoq 84:6-12)
Telah bersabda Rasulullah saw kepada Siti Aisyah ra: Tidak ada seorangpun dihisab pada hari kiamat nanti melainkan ia akan binasa. Aku berkata: Ya Rasulullah bukankah Allah telah berfirman (Maksudnya: Maka adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya maka ia akan dihisab dengan hisab yang mudah)? Beliau menjawab: Itu adalah sekadar penghadapan manusia dihadapan Allah (temuduga sahaja- rujuk Abu Bakar Al Jazairi, Akidah Mukmin, jilid 2 muka surat 518-519) dan tidak ada seorangpun yang dikenakan hisab pada hari kiamat kecuali ia akan disiksa. (Muttafaq ‘Alaih iaitu Diriwayatkan Bersama Oleh Bukhari Dan Muslim)
• Beriman bahawa ada 70 ribu umat Nabi saw yang masuk syurga tanpa dihisab
Telah bersabda Rasulullah saw: Di antara umatku nanti ada yang masuk syurga tanpa dihisab sebanyak 70 ribu orang. (Hadis Riwayat Muslim)
• Beriman bahawa setelah berkumpul di Mahsyar, manusia mendatangi kolam air (Al Haudh) sebagai karunia Allah kepada Nabi Muhammad saw, yang pertama mendatanginya adalah Baginda Rasul saw kemudian diikuti oleh umatnya yang beriman sedang orang-orang kafir dan orang-orang yang berdosa besar ditahan tidak boleh mendatanginya.
Rasulullah saw bersabda: Sayalah yang mula-mula mendatangi kolam air, siapa yang mendatangi akan dapat minum. Dan siapa yang dapat minum ia tidak dahaga selama-lamanya. Dan sesungguhnya akan datang kepadaku beberapa kaum yang aku kenal mereka dan mereka kenal aku. Tetapi ada dinding antara aku dan mereka. Maka selanjutnya Beliau saw bersabda: Mereka itu adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku: Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan setelah engkau wafat. Maka akupun berkata: Celakalah! Celakalah! Bagi mereka mengubah Dien ini selepas aku. (Hadis Riwayat Muslim)
Kolam air itu sangat luas, airnya lebih putih dari susu, lebih sejuk dari air batu, lebih manis dari madu dan lebih harum dari kasturi.
Abdullah bin Amr ra berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: Kolam airku luasnya sejauh perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih dari susu, baunya lebih harum dari katsuri, gayungnya bertaburan seperti bintang-bintang di langit. Siapa yang meminumnya tidak akan haus selama-lamanya. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
• Beriman bahawa amalan-amalan manusia akan ditimbang dengan neraca timbangan untuk membuktikan keadilan Allah swt. (Al Anbiya 21:47; Al A’raf 7:8-9; Al Qoriah 101:6-9) Beratnya timbangan ditentukan oleh Wala’ dan Bara’ nya.
• Beriman bahawa setelah perhitungan dan timbangan amal maka manusia akan menyeberangi sirot/ titian yang terletak diatas neraka Jahannam. Mudah atau susahnya melalui titian tersebut ditentukan oleh iman dan taqwanya masing-masing waktu hidup di dunia. (Maryam 19:71; Al Hadid 57:12-14)
Telah Bersabda Rasulullah saw: Tidak akan masuk neraka Insya Allah seorangpun dari Ashabis Syajarah iaitu sahabat-sahabat yang mengadakan bai’at dibawah sebatang pohon. Lalu Hafsah bertanya: Bagaimana dengan ayat ‘Dan tidak seorangpun dari kamu melainkan akan melalauinya’. Rasulullah saw menjawab: Tidakkah Allah berfirman: ‘kemudian kami akan selamatkan orang-orang yang beriman dan kami akan biarkan orang-orang yang zalim di dalamnya dalam keadaan berlutut’. (Hadis Riwayat Muslim)
• Beriman bahawa manusia yang selamat menyeberangi sirat, selanjutnya mereka akan berdiri diatas jambatan yang memisahkan antara syurga dan neraka untuk mengadakan pembalasan bagi orang-orang yang dizalimi terhadap orang yang menzalimi. Setelah bersih dari dosa baru diizinkan masuk Syurga.
Dari Abu Said Al-Khudri ra berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Akan diselamatkan orang-orang mukmin dari api neraka. Mereka akan ditahan diatas jambatan yang terbentang diantara syurga dan neraka. Lalu sebahagian dari mereka diberi kesempatan membalas kezaliman yang lain yang pernah berlaku semasa di dunia hingga apabila telah habis dan bersih maka diizinkan bagi mereka memasuki syurga. Demi Zat yang diri Muhammad berada ditangan Nya sesungguhnya seorang dari mereka lebih mengenal tempat kediamannya di Syurga daripada kenal rumahnya di dunia ini. (Hadis Riwayat Bukhari)
ii. Kenikmatan syurga tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terlintas oleh hati.
Telah bersabda Rasulullah saw: Allah berfirman: Aku sediakan bagi hamba-hambaKu yang soleh kenikmatan dalam syurga yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terlintas oleh hati. (Lalu Rasulullah saw bersabda): Bacalah jika kalian kehendaki firman Allah: Maka seorangpun tidak mengetahui apa-apa yang disembunyikan untuk mereka iaitu bermacam-macam nikmat yang menyedapkan pandangan mata. (Hadis Riwayat Bukhari)
iii. Adanya kehidupan di Akhirat adalah merupakan bukti keadilan Allah.
§ Dalam kehidupan sehari-hari kita menyaksikan banyak perbuatan-perbuatan manusia yang belum mendapat balasan yang setimpal. Kita saksikan adanya penyelewengan-penyelewengan tetapi kerana hakim tidak dapat membuktikan penyelewengan itu maka akhirnya si penyeleweng tidak dihukum sampai mati.
Kita saksikan ada orang-orang yang berkuasa yang§ zalim dan mengamalkan kezalimannya sampai mati, tidak ada seorangpun yang sanggup menghukumnya. Sebaliknya kita saksikan juga adanya orang yang adil yang menegakkan kebenaran tetapi mereka mendapat perlakuan yang tidak senonoh, dipenjarakan, disiksa, diusir dari tempat kediamannya bahkan tidak sedikit yang dibunuh.
Jadi apa§ ertinya adanya perbuatan baik dan perbuatan jahat kalau tidak ada balasan yang setimpal? Bukankah itu hanya perbuatan sia-sia? Untuk apa kita berbuat baik dan menghindari perbuatan-perbuatan jahat yang pada zahirnya kadang-kadang menguntungkan keduniaan kita kalau akhirnya tidak ada pembalasan? Demikianlah kenyataannya kalau hidup ini hanya sampai di dunia sahaja. Padahal di dalam Al Quran Allah swt menyatakan dengan jelas bahawa hidup ini tidak sia-sia, ada tujuan yang jelas (Al Mukminun 23:115; Al Qiyamah 75:36)
Maka untuk menjadikan§ hidup ini benar-benar ada tujuan dan tidak sia-sia maka mesti diwujudkan balasan yang adil untuk setiap amal perbuatan. Maka untuk mewujudkan perkara ini, Allah menciptakan sambungan kehidupan di dunia ini dengan adanya kehidupan di akhirat nanti. Di sinilah manusia akan merasakan hasil perbuatannya secara adil. (Al Imran 3:185)
§ Maka Allah swt yang Maha Bijaksana telah menetapkan sunnah Nya bahawa hidup di dunia adalah masa untuk beramal sebaik-baiknya. (Al Mulk 67:2) Sedangkan balasan baik dan buruk akan ditunaikan secara adil dan sempurna di akhirat nanti. Dengan demikian tidak ada satu perbuatan pun di dunia ini yang sia-sia, kesemuanya ada nilai dan hasilnya. Amal baik akan berbuah baik dan amal buruk akan berbuah buruk. (Al Imran 3:185) Maka sangat masuk akal lah adanya kehidupan semula setelah dunia ini.
iv. Kesan beriman kepada Hari Akhirat ialah:
• Mendidik manusia menjadi baik kerana keyakinannya yang mantap bahawa dia akan hidup dan akan kekal di akhirat, maka terdoronglah untuk selalu beramal yang soleh mewujudkan keselamatan dan membuahkan kebahagiaannya di akhirat nanti menurut arahan Allah dan Rasul Nya.
• Maka orang yang beriman secara benar kepada hari akhirat pasti di dunia ia akan beramal soleh, itulah sebabnya orang yang beriman kepada hari akhirat selalu berbuat kebaikan dimana ia berada di dunia ini kerana hanya amal soleh sahajalah yang boleh mendatangkan keselamatannya di akhirat nanti.
• Maka amalan soleh seseorang sangat ditentukan kadar imannya kepada hari akhirat. Apabila kadar keimanannya kepada hari akhirat kuat maka amal solehnya kuat dan sebaliknya. Itulah sebabnya di dalam Al Quran banyak ayat-ayat yang menghubungkan iman dengan amal soleh. (At Taubah 9:18,44,45; Al Mujadalah 58:22, Al Mumtahannah 60:6)
• Sebaliknya orang yang tidak beriman kepada hari akhirat pasti ia hanya akan berbuat sesuatu untuk mencari kesenangan nafsunya di dunia sahaja. Apa sahaja yang akan mendatangkan kesenangan dan keinginan nafsunya akan dilakukannya walaupun akibatnya ialah kerosakan dan kerugian pada orang lain. Maka orang yang tidak beriman kepada hari akhirat selalu condong untuk berbuat kerosakan di muka bumi Allah. Ini kerana ia beramal mengikut kemahuan hawa nafsunya untuk mengejar kesenangan sepuas-puasnya dalam kesempatan hidup di dunia ini dan erti hidup baginya adalah untuk memuaskan nafsunya.

f. Rukun Keenam Beriman Kepada Takdir Allah Yang Baik Dan Beriman Kepada Takdir Allah Yang Buruk.
Sabda Rasulullah saw ketika menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang hakikat Iman: Iman ialah engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat Nya, kepada Kitab-kitab Nya, kepada Rasul-Rasul Nya dan kepada hari Kemudian (Kiamat). Dan engkau beriman kepada Takdir baik dan buruk. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
i. Maksudnya ialah beriman bahawa Allah swt:
§ Mengetahui segala perbuatan makhluknya dengan ilmu yang azali.
§ Mengetahui segala keadaan makhluknya dan semua perbuatannya, baik perbuatan taat mahupun maksiat, rezeki dan ajalnya. Kemudian Allah menetapkan di Lauful Mahfuz segala takdir makhlukNya (Al Haj 22:70; Al Hadid 57:22)
ii. Beriman adanya masyiah (kemahuan atau keizinan) Allah yang meliputi segala sesuatu, iaitu:
§ Mengetahui segala perbuatan makhluk Nya dengan ilmu yang azali. Apa yang dikehendaki Allah berlaku dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan berlaku. Maka semua yang ada di alam ini wujud dan bergerak serta diam kerana kehendak Allah. Allah berkuasa diatas segala sesuatu dari perkara yang ada dan tidak ada.
§ Semua yang ada di bumi dan di langit hanya Allah yang menciptakan dan mentadbir bukan selainnya.
§ Allah memerintahkan hamba Nya agar taat kepada Nya dan kepada Rasul Nya dan melarang mereka bermaksiat kepada Nya dan kepada Rasul Nya.
§ Allah kasih kepada hamba-hamba Nya yang bertakwa, berbuat Ihsan dan adil.
§ Allah ridha kepada hamba-hamba Nya yang beriman dan beramal soleh.
§ Allah tidak suka kepada hamba-hamba Nya yang kafir dan fasik.
§ Allah tidak memerintah hamba-hamba Nya melakukan kejahatan, kerosakan dan tidak reda hamba-hamba Nya memilih kekafiran (Al A’raf 7: 28; Az Zumar 39:7)
§ Setiap orang benar-benar melakukan perbuatannya dan Allah lah yang telah menjadikan perbuatan itu. (Ash Safat 37:96)
§ Adapun pembahagian takdir: ‘baik dan buruk’ itu hanya sekiranya ia dinisbatkan kepada manusia.
§ Sedangkan apabila dinisbatkan kepada Allah maka takdir itu semuanya adalah baik kerana kejelekan dan keburukan tidak mungkin dinisbatkan kepada Allah.
Ini kerana masyiah (kemahuan atau keizinan) dan§ penciptaan Nya semuanya berdasarkan kebijaksanaan, keadilan, rahmat dan kebaikan Nya. Sedangkan keburukan dan kejahatan sedikitpun tidak termasuk sifat dan perbuatan Nya.
Doa Nabi saw: Semua kebaikan berada ditangan Mu sedang kejelekan sedikitpun tidak ada pada Mu.
§ Misalnya: Allah mentakdirkan seseorang terkena musibah baik sakit atau lainnya. Keadaan ini diterima oleh manusia sebagai takdir yang buruk dan tidak menyenangkan tetapi bagi Allah penetapan dan takdir ini adalah baik kerana disebalik semua itu ada tujuan dan hikmah Allah yang baik bagi si penderita musibah itu, hanya ia tidak memahaminya. (An Nisa 4:19)
iii. Membahas Takdir
Didalam§ masalah takdir hendaklah kita cukup berpegang kepada kaedah: takdir Allah adalah tersembunyi dan membahasnya secara mendalam tidak disukai.
§ Maka dalam hal ini cukup kita beriman bahawa adanya takdir Allah. Allah mengetahui segala sesuatu, Allah yang menciptakan segala sesuatu, apa yang dikehendaki Allah pasti berlaku dan yang tidak dikehendaki tidak akan berlaku, Allah maha adil dan tidak menzalimi seseorang pun dan Allah bersih dari sifat sia-sia.
Kita tidak perlu membahas hal ini§ melebihi hal-hal tersebut di atas kerana hanya hal-hal itulah yang diterangkan oleh Allah dan Rasul Nya.
Hal-hal yang tidak§ diterangkan oleh Allah dan Rasul Nya tidak perlu dibahaskan kerana akal kita tidak mampu memahaminya disebabkan oleh keadaannya yang terbatas.
Diriwayatkan bahawa Rasulullah saw pada suatu hari keluar, tiba-tiba beliau mendapati manusia sedang berbincang dan membahas mengenai Qada dan Qadar. Maka wajah beliau kelihatan merah seperti delima kerana marahnya, lalu beliau bersabda: Mengapakah kalian pertentangkan setengah ayat-ayat Al Quran dengan setengah ayat-ayat yang lain? Dengan sebab inilah orang-orang dahulu daripada kamu menjadi binasa. (Hadis Riwayat Ahmad)
iv. Berusaha Melalui Sebab
§ Beriman kepada takdir mengharuskan adanya usaha melalui sebab.
§ Allah telah menetapkan Sunnah Nya bahawa apabila manusia ingin mencapai atau menghindari sesuatu ia mesti berusaha melalui sebab-sebab yang telah ada, tetapi berhasilnya mencapai atau menolak sesuatu itu ditentukan oleh izin Allah bukan oleh sebab itu sendiri.
Oleh§ kerana itu dalam hal ini peranan doa tidak boleh diabaikan iaitu disamping berusaha wajib berdoa memohon pertolongan Allah untuk mencapai maksudnya.
§ Umpamanya barangsiapa yang ingin sembuh dari penyakit ia mesti melalui sebab iaitu berubat dan berdoa.

PERANAN IMAN

1. Iman menjadi syarat masuknya seseorang ke dalam jannah (syurga). (Al Kahfi 18:107)
2. Iman mengangkat martabat manusia ke tingkat yang tinggi. (At Tin 95:4-6)
3. Iman merupakan sumber kekuatan jiwa dan hati yang akan meneguhkan pendirian. (Ibrahim 14:24-27)
4. Iman merupakan syarat dipenuhinya segala janji Allah, yang antara lainnya ialah:
a. Mendapat pembelaan dan pertolongan dari musuh (Ar Rum 30:47)
b. Mendapat perlindungan daripada kegelapan hidup (Al Baqarah 2:257)
c. Mendapat petunjuk (Al Hajj 22:54)
d. Tidak akan dikuasai orang kafir (An Nisa 4:141)
e. Mendapatkan kekuasaan dimuka bumi (An Nur 24:55)
f. Diberi rezeki yang penuh barakah (Al A’raf 7:96)
g. Mendapat kemuliaan, kebesaran dan kehormatan (Al Munafiqun 63:8)
h. Mendapat kehidupan yang baik (An Nahl 16:97)
i. Masuk syurga (Al Kahfi 18:106-107)

JALAN MENUJU IMAN

1. Mempelajari ilmu dien.
Maka ketahuilah bahawa sesungguhnya tidak ada Ilah melainkan Allah. (Muhammad 47:19)
Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya diberi kebaikan, maka Allah akan memahamkan dien kepadanya (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
2. Banyak berzikir.
3. Banyak berfikir tentang ciptaan Allah. (Al Imran 3:190-191)
4. Banyak mentadabbur makna Al Quran.(Muhammad 47:24)

TUNTUTAN IMAN

1. Apabila Iman seseorang itu benar, iman akan menuntut agar seseorang itu:
a. Membenarkan dan menyakini semua yang datang dari Allah dan Rasul Nya (At Tin 95:7-8; Az Zumar 39:33)
b. Mentaati Allah dan Rasul Nya secara mutlak dan mentaati Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang beriman) selama tidak diperintah untuk berbuat maksiat (An Nisa 4:59,69)
c. Banyak bertaubat dan beristigfar (Al Imran 3:133-136; Az Zumar 39:53; Al Hadid 57:21)
d. Beramar ma’ruf dan bernahi munkar, saling berpesan-pesan tentang al haq (kebenaran) dan kesabaran.(At Taubah 9:71)
e. Menyeru hanya kepada Allah dan berjihad melawan penghalang dakwah (Al Anfal 8: 39)
f. Berwala’ (menyintai, berpihak atau menyokong) hanya kepada Allah, Rasul Nya dan orang-orang beriman yang taat. Berlepas diri, mengingkari dan memusuhi orang-orang kafir (Al Maidah 5:54-57; Al Mumtahanah 60:4; Al Imran 3:28)

JALAN UNTUK MENGUATKAN IMAN

1. Mengikhlaskan niat kerana Allah semata dalam semua amal baik amal yang wajib, sunnah atau yang mubah. (Al Bayyinah 98:5)
2. Menyempurnakan tawakkal kepada Allah. (An Nahl 16:99)
3. Memperbanyak zikir, baik dengan tilawatil Quran, tadabbur Al Quran (memahami dan merenung ayat-ayat Al Quran dengan kehadiran hati atau khusyuk), menegakkan solat, mahupun membaca zikir-zikir yang ma’thur dari Nabi saw. (Al Kahfi 18:24; Al Ankabut 29:45; Toha 20:14; Az Zariyat 51:55)
4. Mempelajari ilmu syarie, mengajarkan dengan ikhlas dan menghadiri majlis ta’lim yang bersih dari bid’ah dan khurafat.
Sebaik-baik orang diantara kamu, barangsiapa yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya. (Hadis Riwayat Bukhari)
5. Banyak bertaubat dan beristighfar. (Al Imran 3:133; Al Hadid 57:21)
6. Menegakkan peribadatan dengan benar dan ikhlas:
a. Solat fardu dan sunnah
b. Puasa fardu dan sunnah
c. Sedekah fardu (zakat) dan sedekah sunnah
d. Haji dan umrah
e. Berdoa
f. Hidup Zuhud, iaitu mengatur pengeluaran harta di dunia hanya untuk sekadar menutup keperluan dan untuk akhirat sebanyak mungkin. (Al Qasas 28:77)
7. Ribat (berjaga-jaga atau berkawal di perbatasan atau medan jihad) dan Jihad.

UJIAN IMAN

1. Pada hakikatnya perjalanan kehidupan orang beriman di dunia adalah merupakan rangkaian dan lingkaran ujian untuk membuktikan kebenaran imannya. Allah menguji iman seseorang untuk membuktikan benar atau bohong pengakuan imannya (Al Ankabut 29:2-3)
2. Ujian Iman ada dua macam:
a. Ujian berupa khairat iaitu kebaikan. (Al Maidah 5:48; Al Anam 6:165; Al A’raf 7:168; Al Anbiya 21:35; Al Kahfi 18:7; An Naml 27:40; Al Fajr 89:15)
i. Dengan ujian ini apabila imannya benar sudah pasti ia akan bersyukur, hidupnya zuhud, semua nikmat yang diterima digunakan untuk mencari keselamatan dan kebahagiaan akhirat.
ii. Namun apabila imannya tidak benar ia menjadi takabbur, hidup mewah, cinta dunia dan lupa akhirat.
b. Ujian berupa syar iaitu keburukan. (Al Baqarah 2:155,214; At Taubah 9:16; Muhammad 47:4,31; Al Anfal 8:30)
i. Dengan ujian ini sekiranya imannya benar ia pasti akan bersabar dan tetap berpegang teguh kepada hukum Allah.
ii. Tetapi bila imannya tidak benar ia mudah melepaskan hukum Allah bahkan mungkin sampai ke peringkat putus asa.

SIFAT-SIFAT ASAS MUKMIN YANG BENAR

1. Imannya didasari dengan keyakinan dan bersih daripada sebarang keraguan. Ini dibuktikan dengan adanya kemahuan untuk berjihad dengan pengorbanan harta dan jiwa (Al Hujurat 49:15)
2. Apabila ada panggilan Jihad, tidak pernah minta izin untuk tidak ikut serta kerana ia lebih mencintai Allah dan Rasul Nya dan berjihad di jalan Nya dari segala sesuatu di dunia ini. (At Taubah 9:24,44,45)
3. Apabila diseru untuk berhukum dengan hukum Allah dan Rasul Nya bersegera menyambut untuk mentaatinya, serta tidak mengajukan pilihan lain dan hatinya puas menerima apa sahaja keputusan Allah dan Rasul Nya tanpa ada rasa kecewa sedikitpun (An Nur 24:51; An Nisa 4:65; Al Ahzab 33:36)
4. Memiliki akhlak asasi iaitu:
a. Cinta kepada Allah sehingga Allah cinta kepada Nya, menyintai Rasul Nya serta jihad dijalan Nya (At Taubah 9:24)
b. Lemah lembut dalam bermuamalah sesama mukmin, tegas dan keras menghadapi tingkah laku orang kafir dan siap untuk berjihad serta tidak takut celaan orang (Al Maidah 5:54)
c. Berwala hanya kepada Allah, Rasul Nya dan orang beriman yang taat. (Al Maidah 5:55-56)
5. Bersedia untuk berhijrah (Muhajirin), menolong (Ansar) dan berjihad (Mujahidin) (Al Anfal 8:74; Al Hujurat 49:15 )
6. Apabila disebut nama Allah atau dibacakan ayat-ayat Allah, hatinya berasa takut dan imannya bertambah. (Al Anfal 8:2-4)
7. Selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya secara mutlak, dan taat kepada Ulil Amri (Amirul Mukminin dan Ulama’) dalam hal-hal yang bukan maksiat. Apabila terjadi perselisihan dikembalikan penyelesaian kepada Allah dan Rasul Nya. (An Nisa 4:59)
8. Dalam memutuskan suatu perkara tidak mendahului Allah dan Rasul Nya. (Al Hujarat 49:1)
9. Membenci, mengkafirkan dan menjauhi thogut. (Al Baqarah 2:256; An Nahl 16:36, An Nisa 4:60) Menurut Syeikh Muhammad Abd Al Wahhab, thogut ialah syaitan, pemimpin zalim yang meminda hukum-hukum Allah, mereka yang berhukum dengan hukum yang lain daripada apa yang telah diturunkan Allah, mereka yang mendakwa mengetahui ilmu ghaib dan segala sesuatu yang disembah selain Allah dan dia meredai peribadahan itu. dalam segala bentuk (Yasin 36:60; An Nisa 4:60; Al Maidah 5:44; At Taubah 9:31; Al Jin 72:26-27; Al Anam 6:59)
10. Benci kepada kemaksiatan, kekafiran dan kefasikan (Al Hujarat 49:7)
11. Apabila diberikan peringatan dengan dibacakan ayat-ayat Allah, didengar dan diperhatikan selanjutnya mentaatinya. Tidak menghadapinya seperti orang buta dan tuli. (Al Furqan 25:73)
12. Apabila menghadapi ancaman imannya mantap
13. Banyak solat malam dan sedikit tidur (Az Zariyat 51:17; As Sajadah 32:16)
14. Banyak beristigfar dimalam hari (Az zariyat 51:18)
15. Sentiasa berinfaq (Ali Imran 3:134; Az Zariyat 51:19)

KRITERIA IMAN YANG BENAR

1. Iman yang benar akan menghadapi pelbagai macam ujian dan tentangan serta fitnah samada ujian berbentuk kebaikan (harta, isteri, anak-anak, wanita, perniagaan yang diusahakan dan sebagainya) ataupun ujian berbentuk penderitaan (ketakutan, kelaparan, disiksa, diusir, dihina, dituduh gila dan sebagainya). (Al Ankabut 29:2-3; Al Maidah 5:48; Al Anam 6:165; Al A’raf 7:168; Al Anbiya 21:35; Al Kahfi 18:7; An Naml 27:40; Al Fajr 89:15; Al Baqarah 2:155,214; At Taubah 9:16; Muhammad 47:4,31; Al Anfal 8:30)
2. Iman yang benar menjadikan seseorang itu menyintai Islam. (Al Baqarah 2:165)
3. Iman yang benar akan menjadikan seseorang itu komitmen dengan Islamnya, tidak ada keraguan sedikitpun serta berjihad dengan harta dan nyawa di jalan Allah. (Al Hujurat 49:15)
4. Iman yang benar akan menumbuhkan sikap cinta terhadap jihad.
5. Iman yang benar akan menjadikan seseorang hanya taat kepada Allah dan Rasul Nya serta Ulil Amri dari kalangan mukminin (Amirul Mukminin). (4:59)
6. Iman yang benar akan menjadikan seseorang itu berani, pantang berundur, optimis serta tidak takut kepada sesiapapun kerana yakin akan pertolongan Allah. (Ali Imran 3:139; An Nisa 4:104; Ar Rum 30:47; Muhammad 47:7; At Taubah 9:26,40; Al Anfal 8:17)
7. Iman yang benar akan menjadikan seseorang itu cinta akan mati kerana rindu menemui Allah.

KRITERIA IMAN YANG PALSU

1. Selalu dibayangi perasaan takut kepada kematian. (Al Baqarah 2:95-96)
2. Selalu mencari alasan untuk tidak berjihad. (At Taubah 9:38,45; Ali Imran 3:167)
3. Merasa bahagia jika tidak ikut jihad. (At Taubah 9:50,81)
4. Tidak merasa reda/ menerima jika datang ujian daripada Allah. (Al Ankabut 29:10; An Nisa 4:78-79)
5. Mencemuh apabila melihat orang lain berjihad di jalan Allah. (Ali Imran 3:168)
6. Jika disebut nama Allah, sesaklah dadanya dan jika disebut tentang perkara selainnya mereka berasa senang hati. (Az Zumar 39:45)
7. Mereka duduk berbincang bersama orang kafir dalam menyusun/ merencanakan sesuatu. (An Nisa 4:139-140)
8. Mereka sangat senang jika musibah menimpa orang mukmin dan mereka berpura-pura menjadi seorang mukmin dengan menjalankan perintah Allah. (An Nisa 4:141-143; At Taubah 9:17-18,54,107)

TANDA-TANDA LEMAHNYA IMAN

1. Tidak suka berjihad dijalan Allah.
2. Mendekati thoghut dalam segala bentuknya.
3. Tidak membenci kekafiran, kemaksiatan dan kefasikan.
4. Apabila membaca atau mendengar bacaan ayat-ayat Al Quran atau syarahannya (keterangannya) tidak memberi sebarang kesan ke dalam hatinya.
5. Malas mengamalkan amalan-amalan yang dapat menambah ketaatan kepada Allah.
6. Bila ditimpa musibah cepat meninggalkan hukum Allah, bahkan sampai ketingkat putus asa. (Al Hajj 22:11).
7. Hatinya selalu cenderung kepada dunia dan tidak tertarik kepada akhirat, maka kehidupannya cenderung kepada kemewahan dan akhirnya ia menghalangnya menuju ke jalan Allah. Ini merupakan sifat-sifat seorang kafir. (Ibrahim 14:3)
8. Tidak ada keinginan yang kuat untuk menegakan Ad Dien.
9. Tidak marah bila melihat kemaksiatan dan melihat hukum Allah dilanggar.
10. Ukhwah Islamiyahnya lemah.
11. Perbuatannya tidak dipertimbangkan atas dasar pahala dan dosa.
12. Bila diberi peringatan dengan dibacakan ayat-ayat Allah, dihadapinya seperti orang buta dan tuli, iaitu tidak ada perhatian.

PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN IMAN

1. Ramai manusia yang salah sangka bahawa apabila seseorang sudah melafazkan dua kalimah syahadah beerti dia sudah sah menjadi mukmin sehingga sampai kematian dan tidak ada lagi perkara-perkara yang boleh membatalkan dua kalimah syahadah yang telah dilafazkan itu, meskipun dia telah mengucapkan sesuatu atau mengamalkan sesuatu yang melanggar aqidah.
2. Anggapan ini suatu kesalahan besar. Sesungguhnya banyak sekali perkara-perkara yang dapat membatalkan iman dan dua kalimat syahadah yang telah dilafazkan oleh seseorang yang beriman.
3. Oleh kerana itu memahami perkara-perkara tersebut amat mustahak demi untuk menyelamatkan iman dan dua kalimat syahadah sampai akhir hayat.
4. Dalam kenyataan sehari-hari kita menyaksikan ramai orang-orang Islam yang terjerumus dalam ucapan-ucapan atau amalan-amalan yang dapat membatalkan iman dan dua kalimat syahadah yang dilafazkannya, tetapi mereka tidak merasakannya.
5. Oleh kerana itu dipandang perlu kita pelajari dan kita fahami perkara-perkara yang sangat membahayakan syahadah dan iman kita itu agar syahadah dan iman kita selamat sampai akhir hayat nanti.
6. Adapun perkara-perkara yang dapat membatalkan Iman dan dua kalimat Syahadah antara lain adalah:
a. Bertawakal dan bersandar kepada selain Allah dan menyakini bahawa Allah tidak menentukan nasib dan hasil suatu perbuatan.
i. Bertawakal hanya kepada Allah adalah merupakan ekoran/ langkah selanjutnya dari memahami dua kalimat syahadah dan buah iman yang benar. Maka apabila hal ini tidak wujud beerti iman dan syahadahnya tidak wujud.
ii. Allah berfirman dalam surat Al Maidah (5:23) yang menyatakan bahawa bertawakal kepada selain Allah itu tidak dibolehkan.
iii. Bertawakal kepada Allah tidak beerti meninggalkan usaha, bahkan Allah memerintahkan agar manusia beriman, bertawakal dan berusaha.
iv. Misalnya Allah memerintahkan agar orang-orang yang beriman mempersiapkan kekuatan persenjataannya sampai ke tingkat menggentarkan musuh (Al Anfal 8:60), tetapi disamping itu Allah juga memerintahkan agar dalam menghadapi musuh mereka hanya bersandar dan bertawakal kepada Nya dan bukan bersandar kepada kelengkapan perang yang telah mereka persiapkan itu. Kerana yang menentukan kemenangan pada hakikatnya adalah Allah, bukan persenjataan, keberanian dan ketangkasan mereka berperang (Al Anfal 8:17)
v. Allah memerintahkan orang-orang yang beriman bekerja mencari rezeki (Al Jumuah 62:10) tetapi Allah juga menegaskan bahawa hanya Dialah yang mendatangkan rezeki bukan kerana kecekapan dan kesungguhan seseorang itu dalam bekerja mencari rezeki. (Az Zariyat 51:58) Oleh kerana itu seseorang itu hanya wajib bertawakal kepada Allah dan bukan bersandar kepada semangat dan kecekapan bekerja.
vi. Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar berubat untuk menyembuhkan penyakit, tetapi Dia menegaskan bahawa Dialah yang menyembuhkan. (Asy Syuara 26:80) dan bukanlah kerana kepakaran doktor dan kemajuan ilmu perubatan.
vii. Allah memerintahkan orang beriman agar untuk memperoleh manfaat dan menolak mudharat perlu melalui sebab-sebab yang telah ditetapkan oleh Allah dan bertawakal hanya kepada Nya.
viii. Manusia yang bersandar hanya kepada sebab dan melengahkan peranan Allah dalam menentukan hasil adalah dalam keadaan bermaksiat.
ix. Orang yang bersandar hanya kepada sebab dan menyakini bahawa peranan Allah tidak ada sama sekali dalam menentukan hasil, maka ini beerti kemusyrikan.
x. Al Quran menisbahkan segala sesuatu itu kepada kehendak Allah, ilmu Nya dan ketentuan Nya (Al Anfal 8:17; Al Hajj 22:63; Az Zumar 39:62)
b. Melakukan syirik dalam bidang peribadatan iaitu:
i. Berdoa dan memohon keselamatan kepada selain Allah, (misalnya kepada makam-makam yang dianggap keramat dan makhluk-makhluk yang dianggap keramat), bernazar dan menyembelih korban untuk mayat-mayat (jin) dan makhluk lain yang dianggap keramat.
c. Menjadikan perantara antara dia dan Allah, lalu meminta kepada perantara itu agar diberi syafaat dan ia bertawakal kepadanya (perantara). Misalnya:
i. Meminta tolong kepada kuburan seorang wali agar wali yang sudah wafat itu memintakan syafaat kepada Allah agar doanya diterima oleh Allah.
ii. Perbuatan ini adalah serupa dengan perbuatan kaum Musyrikin Quraisy yang membuat patung-patung untuk dijadikan perantara antara mereka dengan Allah agar patung-patung tersebut memberikannya syafaat (Yunus 10:18)
d. Membenarkan mazhab/ sistem/ pandangan hidup orang kafir.
i. Misalnya menganggap semua dien (sistem) itu benar. Sebagai contoh menganggap komunisme, nasionalisme, demokrasi, patriotisme dan sistem-sistem lain sama dengan Islam. Ini beerti membenarkan apa yang dibatalkan oleh Allah. (Al Maidah 5:50)
e. Berkeyakinan bahawa semua ajaran manusia lebih sempurna dari ajaran Nabi Muhammad saw. Misalnya:
i. Menganggap bahawa hukum/ perlembagaan/ peraturan/ undang-undang di sesuatu negara itu lebih baik dan lebih sesuai daripada Syariat Islam.
ii. Menganggap hukum/ perlembagaan/ peraturan/ undang-undang Islam tidak lagi sesuai untuk diterapkan pada zaman moden ini.
iii. Menganggap bahawa sebab-sebab kemunduran kaum Muslimin adalah kerana penerapan hukum/ perlembagaan/ peraturan/ undang-undang Islam secara syumul.
iv. Menganggap bahawa Syariat Islam tidak merangkumi atau mencakupi seluruh aspek kehidupan manusia tetapi hanya mengatur hubungan antara seseorang manusia dengan Allah sahaja. (menganggap Islam ini hanya mencakupi aspek ibadah semata-mata).
v. Menganggap bahawa Umat Islam boleh membuat pilihan samada untuk menerima dan mengamalkan hukum/ perlembagaan/ peraturan/ undang-undang Islam atau menerima dan mengamalkan hukum/ perlembagaan/ peraturan/ undang-undang selain daripada hukum Islam dalam hal mengatur masyarakat dan negara. Ini beerti membolehkan apa yang dilarang oleh Allah. Allah melarang kaum muslimin mengatur masyarakat dan negara dengan undang-undang selain daripada Syariat Islam. (Al Maidah 5:44,45,47)
f. Membenci sesuatu atau sebahagian meskipun hanya satu daripada Syariat Islam. (Muhammad 47:9)
g. Mengejek Allah atau ayat-ayat Al Quran atau Rasulullah saw atau hadis-hadis Rasulullah saw. (At Taubah 9:65)
h. Mengamalkan sihir, misalnya menyihir seorang isteri sehingga ia membenci suaminya. (Al Baqarah 2:102)
i. Menganggap bahawa Umat Islam boleh membuat pilihan untuk memilih menjadi seorang muslim atau berpindah kepada Dien lain iaitu murtad. (Ali Imran 3:85)
Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang mengganti Diennya (murtad dari Islam) maka bunuhlah dia.
j. Termasuk membatalkan iman dan syahadah ialah beramal kerana kebangsaan (nasionalisme), berperang kerana kebangsaan (nasionalisme), beramal kerana kebangsaan (nasionalisme) dan menyeru manusia agar beriman kepada kebangsaan (nasionalisme). Ini perbuatan syirik kerana Allah memerintahkan kita beramal kerana keridhaan Nya, maka barangsiapa yang memalingkan niat hanya mencari keridhaan Allah kepada sasaran lain, jelas dia berbuat syirik dari segi niat. (Al An’am 6:162)
k. Termasuk yang membatalkan iman dan syahadah ialah memberi hak kepada selain Allah untuk membuat hukum/ perlembagaan/ peraturan/ undang-undang berbentuk perintah atau larangan dan membuat syariat (selain Islam) untuk mengatur manusia. Termasuk didalam perbuatan ini adalah ajaran Demokrasi yang mempunyai doktrin bahawa kedaulatan tertinggi ada ditangan rakyat melalui wakil-wakil rakyat yang dipilih dengan cara pilihan raya (untuk membuat hukum/ perlembagaan/ peraturan/ undang-undang negara). Maka apa sahaja yang diinginkan oleh majoriti rakyat harus diwujudkan dalam hukum/ perlembagaan/ peraturan/ undang-undang baik samada sesuai dengan hukum/ perlembagaan/ peraturan/ undang-undang Allah atau bertentangan dengan Nya. Halal ataupun haram tidak lagi penting. Padahal perintah, larangan serta penetapan adalah hak Allah secara mutlak, tertinggi dan eksklusif. (Al Anam 6:57; Al A’raf 7:54) Maka jelas ajaran demokrasi menjadikan rakyat sebagai ilah atau tuhan selain Allah kerana kehendak rakyat (melalui wakil-wakil rakyat di parlimen) mengatasi segala-galanya. (At Taubah 9: 31)
l. Taat kepada selain Allah tanpa keizinan Nya. Adapun antara ketaatan kepada selain Allah yang diizinkan ialah:
i. Taat kepada Rasul Nya secara mutlak. (An Nisa 4:80)
ii. Taat kepada sesama orang Islam selain Rasulullah saw dengan syarat tidak disuruh bermaksiat kepada Allah. (selain Rasulullah saw kerana ketaatan kepada Rasulullah saw adalah secara mutlak manakala taat kepada selain Allah dan Rasul Nya adalah berdasarkan kepada keizinan Allah dan selagi tidak disuruh berbuat maksiat)
iii. Taat kepada Ulil Amri (An Nisa 4:59)
iv. Taat kepada kedua orang tua (Lukman 31:14-15)
v. Taat kepada Ulama’, guru, mubaligh dan sebagainya.
Rasulullah saw bersabda: Tidak boleh taat kepada sesama makhluk dalam hal-hal yang maksiat, bahawasannya taat itu hanya kepada hal-hal yang ma’ruf.
Allah melarang taat kepada ajakan orang kafir dan munafik. (Al An’am 6:116; Asy Syuara 26:151; Al Imran 3:100,149) Maka barangsiapa yang taat kepada selain Allah tanpa keizinan Nya beerti dia telah mengangkat yang ditaati itu sebagai Ilah selain Allah, ini jelas membatalkan Iman dan Syahadahnya. (Muhammad 47:25)
m. Mengatur manusia berdasarkan hukum/ perlembagaan/ peraturan/ undang-undang selain syariat Islam dan berhukum kepada selain daripada Syariat Islam. Ini merupakan sifat-sifat orang munafik. (Al Maidah 5:44,49; An Nisa 4:60,65). Sifat-sifat orang-orang munafik antaranya ialah tidak bersedia berhukum dengan hukum Allah, seperti yang diterangkan di dalam surat An Nur. (24:47-52)
n. Menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Ini merupakan perbuatan syirik besar. (An Nahl 16:116, At Taubah 9:65) Semua kerajaan yang bukan Daulah Islamiyah terlibat di dalam jenayah ini, kerana ia menghukumi rakyatnya dengan undang-undang yang akta-aktanya banyak menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan sebaliknya. Maka barangsiapa yang membenarkan dan mentaati semua kerajaan/ bentuk negara yang bukan Daulah Islamiyah adalah kafir, batal Iman dan syahadahnya. Perkara seperti ini hendaklah dipandang berat oleh orang-orang yang beriman.
o. Tidak beriman kepada Kitab dan Sunnah secara syumul (keseluruhan) iaitu mendustakan atau tidak menerima samaada sebahagian ayat-ayat Al Quran ataupun hadis-hadis yang sahih meskipun hanya satu ayat atau satu hadis sahih sahaja. (Al Baqarah 2:85; Al Hasyr 59:7) Atau hanya beriman kepada Al Quran sahaja dan menolak semua Hadis seperti pendirian golongan anti hadis.
Dari Al-Irbad ra berkata Rasulullah saw pernah bersabda: Apakah salah seorang daripada kamu menyangka seorang yang duduk di atas katilnya yang terhias sambil berkata Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi tidaklah mengharamkan sesuatu melainkan apa-apa yang ada dalam Al Quran ini. Ingatlah sesungguhnya Demi Allah aku benar-benar telah memerintahkan, aku benar-benar telah memperingatkan dan aku benar-benar telah melarang beberapa perkara, sesungguhnya semuanya (perintah dan larangan Rasulullah saw di dalam hadisnya) itu seperti Al Quran atau lebih banyak. (Hadis Riwayat Abu Daud)
Dari Jabir ra berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: Hampir-hampir salah seorang diantara kamu berkata: Ini Kitab Allah, apa-apa yang ada didalamnya yang halal kami halalkannya, dan apa-apa yang ada didalamnya yang haram kami mengharamkannya. Ingatlah barangsiapa yang sampai kepadanya satu hadis dari aku lalu ia mendustakannya maka sesungguhnya ia telah mendustakan Allah, Rasul Nya dan orang-orang yang meriwayatkannya. (Hadis Riwayat Ibnu Abdil Bar)
p. Berwala (simpati, berkawan akrab, membantu, mengangkat jadi pemimpin) orang-orang kafir dan memusuhi orang-orang mukmin. (Al Maidah 5:51-53,57, An Nisa 4:138-139)

7 MACAM PAHALA SELEPAS MATI

Dari Anas r.a. berkata bahawa ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseorang itu selepas matinya.

1. Sesiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan oleh orang untuk beramal ibadat di dalamnya.

2. Sesiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya.

3. Sesiapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang membacanya.

4. Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya.

5. Sesiapa yang menanam tanam-tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau burung.

6. Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh orang yang mempelajarinya.

7. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana ianya selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar baginya

8. yakni anak yang selalu diajari ilmu Al-Qur’an maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkan ajaran-ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda : “Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam :

1. Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)

2. Ilmu yang berguna dan diamalkan.

3. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.

Sebuah Renungan Kehidupan Seorang Manusia

Wanita sempurna

Ini kisah perjumpaan dua orang sahabat yang sudah puluhan tahun terpisahkan hidupnya. Mereka kangen-kangenan, ngobrol ramai sambil minum kopi disebuah kafe. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.‘Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang kamu belum juga menikah?’ ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang membujang. ‘Sejujurnya sampai saat ini saya terus mencari wanita yang sempurna. Itulah sebabnya saya masih melajang. Dulu di Bandung, saya berjumpa dengan seorang gadis cantik yang amat pintar. Saya pikir ini adalah wanita ideal yang cocok untuk menjadi istriku. Namun ternyata di masa pacaran ketahuan bahwa ia sangat sombong. Hubungan kami putus sampai di situ.‘Di Jakarta, saya ketemu seorang wanita rupawan yang ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama, aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun ternyata belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.‘Saya terus berupaya mencari. Namun selalu saya temukan kelemahan dan kekurangan pada wanita yang saya taksir. Sampai pada suatu hari, saya bersua wanita ideal yang selama ini saya dambakan. Ia demikian cantik, pintar,baik hati, dermawan, dan suka humor. Saya pikir, inilah pendamping hidup yang dikirim Tuhan.’‘Lantas,’ sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan, ‘Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak segera meminangnya?’Yang ditanya diam sejenak. Suasana hening. Akhirnya dengan suara lirih, sang bujangan menjawab, ‘Baru belakangan aku ketahui bahwa ia juga sedang mencari pria yang sempurna.’

Nasab Anak yang Dinikahi Waktu Hamil

Tentang hamil diluar nikah sendiri sudah kita ketahui sebagai perbuatan zina baik oleh pria yang menghamilinya maupun wanita yang hamil. Dan itu merupakan dosa besar. Persoalannya adalah bolehkah menikahkan wanita yang hamil karena zina?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sungguh, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan Bapak untuk menjawab pertanyaan saya beberapa waktu yang lalu. Sekarang, ada satu persoalan yang membuat saya bingung: Saat ini, barangkali sudah tidak begitu asing dengan adanya perempuan yang hamil di luar nikah (meski jelas ini adalah perbuatan zina). Dan sebagai tindak lanjut dari keadaan yang sudah terlanjur tersebut orang biasanya melakukan aborsi (saya sudah tahu bahwa yang semacam ini adalah termasuk pembunuhan) atau melakukan pernikahan.

Pertanyaan saya, apakah pernikahannya ini sah? sebab, ada ustadz yang bilang bahwa pernikahannya ini tidak sah sebab harus menunggu bayi itu lahir dan baru menikah. tapi, yang seperti ini sepertinya tidak lazim dan malah membuat malu (aib) di kalangan masyarakat kita. Bagaimana ini Bapak? sebab, kasus ini memang terjadi di tetangga saya, dan sebagian orang yang percaya terhadap ungkapan ustadz tersebut (barangkali didukung dengan hadits Nabis SAW) menganggap bahwa pernikahan tetangga saya tersebut tidak sah. katanya, ketika anaknya sudah lahir kelak, ia harus menikah ulang lagi.

lho, pertanyaan saya, berarti pernikahaan kemarin hanya main-main dong, apakah boleh main-main dengan agama? berarti hubungan yang dijalin selama belum nikah ulang berarti zina dong (karena belum sah) Sungguh, atas jawabannya (bagaimana dengan pada zaman Nabi SAW) dihaturkan banyak terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

Assalamualaikum Wr.Wb,

Tentang hamil diluar nikah sendiri sudah kita ketahui sebagai perbuatan zina baik oleh pria yang menghamilinya maupun wanita yang hamil. Dan itu merupakan dosa besar. Persoalannya adalah bolehkah menikahkan wanita yang hamil karena zina? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada yang secara ketat tidak memperbolehkan, ada pula yang menekankan pada penyelesaian masalah tanpa mengurangi kehati-hatian mereka. Sejalan dengan sikap para ulama itu, ketentuan hukum Islam menjaga batas-batas pergaulan masyarakat yang sopan dan memberikan ketenangan dan rasa aman. Patuh terhadap ketentuan hukum Islam, insya Allah akan mewujudkan kemaslahatan dalam masyarakat.

Dalam Impres No. 1 Tahun 1991 tentang penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam(KHI), Bab VIII Kawin Hamil sama dengan persoalan menikahkan wanita hamil. Pasal 53 dari BAB tersebut berisi tiga(3) ayat , yaitu :

1. Seorang wanita hamil di laur nikah, dapat dinikahkan dengan pria yang menghamilinya.

2. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat(1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dulu kelahiran anaknya.

3. Dengan dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

Persoalan menikahkan wanita hamil apabila dilihat dari KHI, penyelesaiaanya jelas dan sederhana cukup dengan satu pasal dan tiga ayat. Yang menikahi wanita hamil adalah pria yang menghamilinya, hal ini termasuk penangkalan terhadap terjadinya pergaulan bebas, juga dalam pertunangan. Asas pembolehan pernikahan wanita hamil ini dimaksudkan untuk memberi perlindungan kepastian hukum kepada anak yang ada dalam kandungan, dan logikanya untuk mengakhiri status anak zina.

Dalam kasus wanita hamil yang akan menikah dengan laki-laki lain yang tidak menghamilinya, ada dua pendapat yaitu :

pertama, harus menunggu sampai kelahiran anak yang dikandung wanita tersebut. Dan status anak yang dilahirkan kelak, dapat dianggap sebagai anak laki-laki yang mengawini wanita tersebut dengan kesepakatan kedua belah pihak.

Kedua, siapapun pria yang mengawini dianggap benar sebagai pria yang menghamili, kecuali wanita tersebut menyanggahnya. Ini pendapat ulama Hanafi yang menyatakan bahwa menetapkan adanya nasab (keturunan) terhadap seorang anak adalah lebih baik dibanding dengan menganggap seorang anak tanpa keturunan alias anak haram.

Perkawinan dalam kasus ini dapat dilangsungkan tanpa menunggu kelahiran bayi, dan anak yang dikandung dianggap mempunyai hubungan darah dan hukum yang sah dengan pria yang mengawini wanita tersebut. Di sinilah letak kompromistis antara hukum Islam dan hukum adat dengan menimbang pada kemaslahatan, aspek sosiologis dan psikologis.

Sebagai akhir dari penjelasan ini adalah pembolehan Jumhur ulama berdasar pada hadis ‘Aisyah dari Ath-Thobary dan ad-Daruquthny, sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan dan ia mau mengawininya. Beliau berkata:”Awalnya zina akhirnya nikah, dan yang haram itu tidak mengharamkan yang halal.”Sahabat yang mebolehkan nikah wanita berzina adalah Abu Bakar, Umar, Ibnu Abbas yang disebut madzab Jumhur. (Ali Assobuny/I/hlm49-50).

Demikian penjelasan saya, semoga Allah menjauhkan kita dan saudara-saudara kita dari perbuatan dosa, Amien.

Wassalamulaikum ,

MALAM PERTAMA DI ALAM KUBUR

Pernahkah engkau melihat kuburan?
Pernahkah engkau melihat gelapnya kuburan?
Pernahkah engkau melihat sempit dan dalamnya liang lahat?
Pernahkah engkau membayangkan kengerian dan kedahsyatan alam kubur?
Sedarkah engkau bahawa kuburan itu dipersiapkan untukmu dan untuk orang-orang selain darimu?

Bukankah telah silih berganti engkau melihat teman-teman, orang-orang tercinta dan keluarga terdekatmu diusung dari dunia fana ini ke kuburan?

Mati

Apakah Malam Pertama Kita di Alam Kubur Nanti Asyik dan Nikmat atau Penuh Derita dan Sengsara?”

Wahai anak Adam, apa yang telah engkau persiapkan saat malam pertamamu nanti di alam kubur? Tidakkah engkau tahu, bahawa ia adalah malam yang sangat mengerikan. Malam yang kerananya para ulama’ serta orang-orang yang soleh menangis dan orang-orang bijak mengeluh. Apa tidaknya, kala itu kita sedang berada di dua persimpangan dan di dunia yang amat berbeza.

“Suatu hari pasti engkau akan tinggalkan tempat tidurmu (di dunia), dan ketenangan pun menghilang darimu. Bila engkau berada di kuburmu pada malam pertama, demi Allah, fikirkanlah untung nasibmu dan apa yang akan terjadi padamu di sana?”

Hari ini kita berada di dunia yang penuh keriangan dengan anak-anak, keluarga dan sahabat handai, dunia yang diterangi dengan lampu-lampu yang pelbagai warna dan sinaran, dunia yang dihidangkan dengan pelbagai makanan yang lazat-lazat serta minuman yang pelbagai, tetapi pada keesokannya kita berada di malam pertama di dalam dunia yang kelam gelap-gelita, lilin-lilin yang menerangi dunia adalah amalan-amalan yang kita lakukan, dunia sempit yang dikelilingi tanah dan bantalnya juga tanah.

Pada saat kita mula membuka mata di malam pertama kita di alam kubur, segala-galanya amat menyedihkan, tempik raung memenuhi ruang yang sempit tapi apakan daya semuanya telah berakhir. Itukah yang kita mahukan? Pastinya tidak bukan? Oleh itu beramallah dan ingatlah sentiasa betapa kita semua akan menempuhi MALAM PERTAMA DI ALAM KUBUR!

Di dalam usahanya mempersiapkan diri menghadapi malam pertama tersebut, adalah diceritakan bahawa Rabi’ bin Khutsaim menggali liang kubur di rumahnya. Bila ia mendapati hatinya keras, maka ia masuk ke liang kubur tersebut. Ia menganggap dirinya telah mati, lalu menyesal dan ingin kembali ke dunia, seraya membaca ayat:

“Ya Rabbku, kembalikanlah aku semula (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal soleh terhadap apa yang telah kutinggalkan (dahulu).” (Surah Al-Mu’minun, ayat 99-100)

Kemudian ia menjawab sendiri; “Kini engkau telah dikembalikan ke dunia wahai Rabi’..” Dan disebabkan hal tersebut, Rabi’ bin Khutsaim didapati pada hari-hari sesudahnya sentiasa dalam keadaan beribadah dan bertaqwa kepada Allah!

Wahai saudaraku, tidakkah engkau menangis atas kematian dan sakaratul maut yang bakal menjemputmu? Wahai saudaraku, tidakkah engkau menangis atas kuburan dan kengerian yang ada di dalamnya? Wahai saudaraku, tidakkah engkau menangis kerana takut akan hausnya di hari penyesalan? Wahai saudaraku, tidakkah engkau menangis kerana takut kepada api Neraka di Hari Kiamat nanti?

Sesungguhnya kematian pasti menghancurkan kenikmatan para penikmatnya. Oleh itu, carilah (kenikmatan) hidup yang tidak ada kematian di dalamnya. “Ya Allah, tolonglah kami ketika sakaratul maut!”